I see no track, no sign of my pack. Lost in my surroundings, slowly fading. Blur, I fight the temperature. Driven by only hope, chasing for safety. Once in my lifetime, I long to live. Closing its curtains. The night felt so wrong. No sun, no warmness comes. The sky knows only black. The color I refuse to come back. My elegy, I'm always trapped by irony. Past is gone, but "now" itself crumbling. I live in nowhere but the void of self-aware. As I see nobody, I befriended the entropy. Chance is the cost I can't pay. But I want to sustain the pain. Bloom in honor of the second defeat.
Dengan membeli beberapa bungkus mie di akhir bulan yang kerap didramatisasi, setiap anak kost utamanya diri kita yang pernah mengalami sendiri, pasti pernah merasa jika di balik banyaknya masalah yang bersifat gawat, hal sesederhana urusan perut saja sebenarnya bisa cukup merepotkan. Terlebih pada situasi dan kondisi yang pada kenyataannya miskin uang dan peluang. Dengan hidupnya kita di dunia saja, kita sudah dihadapkan pada bermacam masalah yang mesti diseleksi sedemikian rupa untuk pada akhirnya diputuskan mana yang layak diambil peduli. Kecil atau besar, sepele ke bertele-tele. Seiring bertambahnya umur, tak jarang kita dibuat sadar jika apa yang disebut skala prioritas sebenarnya kondisional. Dan karena kondisional, justru yang dirasa lebih pantas diutamakan pertama pada akhirnya tidak jauh dari pemenuhan kebutuhan pribadi. Bukan karena kita egois, tapi karena idealnya segala hal yang bersifat ekstra baiknya dimulai dari intra. Demi apa? Demi kesadaran akan skala prioritas yang re...
In a parallel universe, somewhere in the near future. My son, a crybaby boy asks me: "What's your dream when you were ten years old, dad?" Since that's a good question from a promising good boy, I tell him a bright-shining light: an answer he really needs the most. What's it? Typical lies.
Comments
Post a Comment