REFLEKSI
Saya terlahir dengan pola pikir sederhana tapi memiliki daya imajinasi yang kuat. Tak jarang, kompleks. Cenderung lebih senang sendirian ketimbang bergaul. Sebelum masuk SD, saya selalu mengusir (ya, harfiah) siapapun yang mengajak bermain. Kala itu, tidak ada yang lebih saya perlukan untuk bersenang-senang selain mainan. Kadang, melibatkan selimut dan bantal juga ketika mencoba simulasi kokpit dan dogfight.
Masuk SD, saya mulai mau bergaul. Bahkan, keranjingan dengan interaksi sosial. Saya sadar, lumayan (atau sangat?) talkative ternyata. Meski begitu, berujung dengan cap "aneh". Bagaimana tidak, banyak berkhayal dipadu dengan banyak omong merupakan kombinasi paling rawan secara standar sosial. Ya, rawan teralienasi.
Bisa ditebak, akhirnya akan seperti apa. Perundungan fisik dan mental menjadi bagian dinamika harian. Pintar di bermacam mata pelajaran sedikit meminimalisir memang, tetapi tidak begitu membantu. Satu hal yang jelas, sisi sentimental saya memberi kepekaan tersendiri. Di usia dini saya sudah ngeh tentang fleksibilitas*. Dan tentu saja, tentang bagaimana menjadi normal secara sosial. Meskipun, pemikiran dan penerapannya baru matang beberapa tahun kemudian.
Singkat cerita, terbentuk pengalaman di masa kecil dan dinamika transisi masa remaja ke dunia orang dewasa, saya menjadi pemerhati perilaku manusia. 'Sialnya', saya menjadi teramat mengemari mencari warna asli setiap orang. Berpura-pura bodoh, pintar, setuju, tidak setuju, menunjukan emosi tertentu dan lain sebagainya sering saya lakukan. Selalu.
Entah, kadang saya merasa itu refleksi dari pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu. Rasanya 'sulit sekali percaya' pada siapapun. Memiliki 'ketakutan' tersendiri bahwa pada dasarnya 'tidak ada' orang yang benar-benar baik.
*mungkin itu reaksi/dampak alami, semacam survival mechanism.
Comments
Post a Comment