PUNK IS DAD
Dalam menjalani kompleksnya hidup, mereka yang kebetulan diberi skenario pelik oleh tuhan, pasti banyak melewati pengalaman salah pilih. Itu lumrah memang, terutama soal penyesalan di akhirnya. Di satu sisi mungkin mewakili kebodohan, di sisi lainnya perlu disyukuri, jika bisa menjadi elemen pendukung pengembangan diri.
Mungkin sering kita temukan pertanyaan semacam "apa yang akan kamu katakan pada diri sendiri versi lebih muda?" dan penyesalan-penyesalan dalam bentuk wejangan berawalan "jangan" pun berhamburan. Lebih dari sekadar lancar, semuanya keluar selaras dengan amarah dan (bahkan) kebencian pada diri sendiri.
Bagi saya, pertanyaan tersebut sangat bagus untuk bertafakur. Meski tidak bisa dipungkiri, hanya akan menjadi pemicu ingatan-ingatan yang sebenarnya lebih baik dilupakan saja.
Katakanlah kalian termasuk ke dalam golongan yang merasa perlu ditanya seperti itu. Apa yang akan kalian tegaskan pada diri sendiri atau bahkan mereka yang dirasa sedang ada di si-kon seperti kalian dulu (dan perlu diingatkan)
Omong-omong, berhubung 'dosa besar' saya dulu adalah salahnya menempatkan ego. Begini, kira-kira yang akan saya katakan:
1. "Kamu sebenarnya sangat boleh tidak altruis meski terlihat semestinya jangan.
Kamu sangat boleh egois, kalau ego yang diyakini pada akhirnya bisa memberikan manfaat."
2. "Kalau perlu menjadi bebal dan serba tega demi tujuan yang (sangat) baik, asal si-kon sesuai, memberontaklah."
3. "Kalau dirasa teman-teman positifmu tidak lebih dari sekadar gema para motivator kondang, tinggalkan."
Tiga ini mungkin yang paling penting dan bisa relevan ke banyak orang, terutama kalau ada konteks spesifik yang diwakili: miskin, bercita-cita besar dan sayang keluarga.
Pada akhirnya, hidup itu sangat bisa dijalani dengan pemikiran sederhana. Yang membuat rumit hanya dua: pikiran kita sendiri dan pemikiran mereka yang tidak benar-benar mengerti kita.
Be a punk, sonny.
Comments
Post a Comment