KERINGAT PEREMPAT MALAM

Sejak sadar betapa menyenangkannya berteman atau memiliki teman, saya selalu tidak sabar untuk bertemu orang baru. Kesadarannya sendiri muncul setelah masuk SD, dan sensasi dalam membentuk relasi selalu ada sejak saat itu. Tapi, ada saja saat di mana saya merasa sendirian. Bahkan, kalau berbicara tentang mimpi, sebagian besar mimpi saya seputar berjalan-jalan sendiri. Bukan semacam petualangan mengasyikan, karena biasanya hanya melibatkan tempat sepi atau 'kosong'. Seolah tersesat namun tidak keberatan, kebingungan namun tidak dikeluhkan, terasa tenang sekaligus luar biasa hampa. Ironis.

Kali ini saya bermimpi kembali pada tahun 1997. Dilihat sekeliling, latar belakangnya adalah rumah bilik atau anyaman bambu. Terlihat sebuah TV hitam putih dengan merk Asatron, teman terbaik saya di kala orang-orang rumah pergi sekolah maupun bekerja. Sebelum merasa cukup memperhatikan semuanya, ada sekelebat bayangan menutup pandangan. Seketika saya tiba di tempat yang asing.

Kiri-kanan ada padang yang ditumbuhi rumput, namun jarang dan sebagian tertutup tanah. Terkesan gersang, apalagi dengan adanya terik matahari. Di tengahnya ada jalan membentang panjang, dari kejauhan terlihat pemukiman. Ketika saya mulai berjalan, di sekeliling orang-orang mulai bermunculan. Padang yang semula kosong mulai dipenuhi bangunan. Terlihat banyak orang sibuk dengan kegiatan dan tujuannya masing-masing. Muka mereka samar, tapi ada kesan kuat seputar perkiraan rupanya.

Dengan semakin dekatnya jarak dengan pemukiman yang sedari tadi dituju, apa yang sebelumnya ikut muncul seiring dengan langkah kaki, kini perlahan menghilang. Menariknya, pemukiman tadi berubah menjadi padang gersang yang luas ketika saya sampai di sana. Dengan beberapa kedipan setelahnya, berubah lagi menjadi padang rumput yang lebat. Kini, lengkap dengan hujan.

Dengan entah kenapa, tiba-tiba ada sensasi dikejar sesuatu yang menakutkan. Secara sugesti, saya dituntut berlari. Berlarilah saya sambil menyibak rumput yang menutup pandangan. Berlari, berlari. Sampai saya tiba di depan rumah. Malam hari.

Dari luar hanya terlihat cahaya lilin. Saya dekati dan terbangun seketika. Kelelahan.

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER