MEMORABILIA

Terlepas dari betapa abstraknya ini, dulu saya bercita-cita menjadi seniman besar. Sejak bisa dan sadar betapa menyenangkannya menggambar, terlebih ketika mulai memahami konsep cita-cita, seniman besar adalah sesuatu yang selalu saya usahakan kejar. Saya bisa menjadi sangat nekat, tidak tahu malu dan tentu saja super optimis jika menyangkut terwujudnya keinginan tersebut.

Begitu terarah, begitu hidup. Sampai ketika saya menjadi seseorang yang idealis nan bebal, ego menutupi cara berpikir saya. Ketidaktahuan saya pada sesuatu bernama kompromi, membuat saya (pada saat itu) bersinar dari sisi seni namun meredupkan sekitarnya. Keluarga baik yang semestinya dibalas kebaikannya, jadi terlupakan. Banyak hal yang saya abaikan, hal yang dibutuhkan keluarga saya namun sering kali saya nomor-duakan. Begitu sibuk, begitu ambisius. Begitu lalai.

Pada satu titik, saya mulai mempertanyakan. Kalau sudah jadi besar, memang mau bagaimana nantinya? Jawaban yang saya temukan ternyata seputar menjadi bermanfaat bagi sekitar maupun skala lebih besar, dimulai dari keluarga sendiri. Saya pada akhirnya paham, harusnya bukan menjadi seniman besar yang mesti-kejar, tapi menjadi seniman berguna.

Dengan mengatur ulang target dan 'menurunkan' standar, pemikiran soal menjadi idealis-kompromis saya pegang dan mulai jalankan. Secara hasil, tidak begitu signfikan atau cukup untuk memenuhi kebutuhan ego (tentu saja). Namun yang menarik, beringingan dengan sisi altruis yang semakin menguat, kebahagian-kebahagian datang. Benar, saya merasa ada yang hilang. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau bermacam hal baru yang datang berhasil menutup perasaan itu.

Betapa 'norak' dan ignoran, mengingat bagaimana saya mengagungkan seni pada ruang abstrak berbasis "pride and honor" dulu. Tanpa tahu dan paham betul kalau yang saya inginkan sebagai hasil sebenarnya bukan itu.

Tahun-tahun berlalu bersama dengan pengembangan karakter yang mungkin kalau dilihat sekarang, masih kampungan dan goblok. Tapi di luar itu, saya senang telah melewati fase paling berak di kehidupan: mengenali diri sendiri dan mencari tahu apa tujuan hidupnya.

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER