Tanpa perlu romantisisasi atau secara khusus dipatok pada tanggal tertentu, setiap hari bisa jadi Hari Ibu buat saya (dan tentu, selalu bisa menjadi istimewa). Berhubung kedekatan saya dengan ibu sudah kuat terjalin sejak dulu. Ibu saya bisa menjadi sosok paling bersahabat sampai bisa memberikan kenyamanan sebagai ruang curhat. Tapi di sisi lain, bisa juga jadi lawan paling sengit di urusan debat. Terlepas dari keduanya, ibu adalah pembelajar ulung. Perhatiannya pada anak berkualitas luar biasa, karena ditambah dengan kemauan dan kemampuan mehamami. Seperti seorang anak (katakanlah) pra-pencerahan pada umumnya, saya pernah mengalami masa gengsi untuk menunjukan respon yang semestinya ketika diberi bermacam perlakuan baik oleh ibu. Tapi pada akhirnya saya sadar, dengan betapa banyaknya kebaikan yang saya dapat, kok mesti malu? Sejak meyakini perlunya menunjukan kasih sayang, saya semakin alay dan (kalau mengutip bahasa adik-adik sekalian) cringe ke ibu. Menariknya, itu terasa menyenangk...
Kita adalah bunga, adalah benci yang senantiasa bisa mekar setiap hari. Kita adalah batu, adalah kebenaran yang senantiasa dijaga bersama kerasnya kepala. Kita adalah mimpi, adalah kenyataan akan angan-angan yang selalu harus bisa terwujud tanpa kegagalan. Kita adalah mereka yang gemar menghitung sendiri, berapa jumlah kenapa terkait ini dan itu.
Dulu, saya biasa saja memandang keuniversalan dalam karya atau produk seni. Maksudnya, saya tidak terganggu apabila ada sesuatu yang sebenarnya bernilai khusus dan idealnya menjadi konsumsi golongan tertentu, menjadi hal yang bersifat masal bin masif. Normal bin umum. Dulu saya juga berpikir, pengkotak-kotakan hanyalah arogansi. keuniversalan adalah kebijaksanaan. Keadilan. Namun, arogansi yang semula saya "cih"-kan pada akhirnya bisa saya terima, bisa saya pahami sebagai ketidaknyamanan pada degradasi nilai. Ketidaketisan bisa dibilang. Karena bagaimanapun juga, bak bule yang kerap meneriakan "such a disrespect!", memang, terlepas dari manfaatnya untuk produsen, budaya menghidupkan euforia dalam membuat semua hal jadi relevan di ranah populer itu dilema yang digdaya. Perlu, tapi mesti merelakan buah pikiran jadi buih kapiran.
Comments
Post a Comment