KARENA TATANG SUHENRA
Saya tipe orang yang ketika menyukai sesuatu, akan berusaha mendapatkannya. Itupun dengan catatan, memungkinkan untuk diraih. Kalau tidak, dengan sukarela selalu siap untuk melewatkannya. Menyimpannya sekadar di ruang angan-angan tanpa tekanan mewujudkan.
Berawal dari ketertarikan pada komik berseri Petruk dan Gareng (karya Tatang Suhenra terbitan Sandro Jaya Agency), Ade kecil mulai menunjukan karakter seperti di paragraf pertama. Kala itu tahun 1999, saya baru kelas 2 SD. Salah seorang penjual mainan di halaman sekolah ternyata membawa dagangan baru: komik. Yang menarik, ternyata bukan berupa manga (komik Jepang) bajakan yang sudah lumrah tersebar di mana-mana, tapi komik lokal dengan latar paduan Sunda dan Betawi. Petruk dan Gareng, begitu nama komik itu disebut, sangat menarik perhatian saya. Bagaimana tidak, humor dan horor merupakan dua hal yang sangat saya sukai. Dan keduanya ada sebagai tema dasar komik tersebut.
Uang jajan saya sebenarnya hanya cukup untuk membeli satu komik perhari. Jadi, kalau saya memutuskan membeli, berarti saya tidak akan jajan (makanan) sama sekali. Tentu hal seperti itu jika dilakukan bisa memicu kemarahan orangtua. Tapi saya yang tidak ingin mengalah pada si-kon (tentu saja) pada akhirnya tetap membeli komik itu secara berkala, itupun dibarengi dengan siasat yang luar biasa bodoh.
Apa yang saya lakukan? Tiap sepulang sekolah, saya menjatuhkan komik yang baru saya beli ke bawah ranjang. Terus, dengan berlaga polos memberitahu ibu kalau saya baru menemukan sebuah komik. Ibu jelas geleng-geleng kepala awalnya, namun seiring berjalannya waktu mulai bisa dan mau menerima salah satu ketertarikan saya pada saat itu: bacaan bergambar. Saya pada akhirnya diizinkan mengoleksi, dengan cacatan diselingi membeli makanan di tiap minggunya.
Menutup nostalgia di atas, saya pikir apa yang terlihat di masa kecil, terutama dalam konteks karakter dan cara berpikir, biasanya dibawa sampai dewasa. Itupun jika tidak ada imbas signifikan dari perjalanan hidup yang sekiranya bisa merubahnya.
Nah, kira-kira apa yang masih kalian bawa dan pertahankan dari versi kecil diri sendiri?
Atau tidak ada yang terbawa satupun?
Comments
Post a Comment