BONI TAK MALANG

Boni sampai pada tegukan akhir. Mabuk tiada muncul malah kantuk menyembul. "Bagaimana ini tuan?" keluhnya pada botol minuman. Pandangannya meredup seiring lemahnya jantung berdegup. Tak berapa lama dia terjatuh, tergeletak lusuh. Nampak sisa perjuangan, mencari jawab semalaman.

Dalam baringnya, pikiran terbawa pada suatu dimensi. Ditengoknya kanan-kiri, hanya ilalang di kosongnya padang. Jauhnya kaki melangkah diakhiri dengan menyerah. Tidak ada siapapun, mungkin kehidupan dalam tertimbun.

Boni isyaratkan ampun. "Tuan, bagaimana kalau pulangkan saja?" pintanya pada langit. Petirpun menghujam. Boni hitam terbakar. Sadarnya pudar, semenit kemudian terbangun buyar. Lamunannya hancur.

Dipandangnya botol yang tengah dia genggam. Satu tegukan dan semuanya bisa selesai. Namun, Boni terdiam dan mengabaikan. Beranjak dari sudut emperan.

Malam itu dia melompat ke sungai. Seraya diapit buih limbah perkotaan, dia sesumbar "Tuan, biar aku yang memutuskan". Dan setelahnya tidak ada lagi malam-malam peraduan.

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER