BALADA SI BONI
Boni anak yang malas. Setelah bingung dengan betapa banyaknya rutinitas, Boni enggan menambah lagi. Ritual peribadatan Boni lewatkan, karena menurutnya ada yang lebih utama. Hakikat kehidupan.
Bukan tanpa alasan, pandangannya terbentuk setelah melihat bermacam ketidakberesan. Mereka yang menukar waktu pada ritual, tidak selalu terjamin baiknya tercermin. Pada akhirnya Boni bertanya-tanya dalam curiga, apa pengulangan gerak tidak membantu pengembangan akhlak?
Hari berganti, prinsip terpatri. Boni menjalani hidup dengan kepekaan pada kesemestian. Ketika hakikat kian banyak didapat, bersama ironi kehampaan datang sendiri. Dengan entah kenapa, Boni teringat ritus dan hubungannya pada yang kudus.
Apa benar ritual hanya sebatas kegiatan berkala, meditasi dalam meredam hasrat duniawi? Ternyata tidak. Lebih dari itu, pengulangannya adalah upaya memperpendek jarak dalam komunikasi. Baik pada bagian terdalam diri maupun ilahi.
Soal mereka yang sekadar lebam dalam sujud, biarkan. Sekiranya tidak kita ketahui apa yang mereka percayai.
Comments
Post a Comment