BALADA BAPAK TUKIMAN

Di balik liarnya pikiran dan meledak-ledaknya gairah hidup seorang Tukiman, dia orang yang baik. Lebih dari itu, ingin menjadi pria yang saleh. Berbagai cara dia tempuh dan olah lewat proses perenungan. Sebagaimana dia rasa, kesalehan tidak terbatas atau terpatok hitam dan putih. Menurutnya, di atas itu ada yang disebut adaptasi si-kon dan pemahaman pada skala urgensi. Bermodalkan pola pikir ini, Tukiman menjalani hidup. Menapaki jalur menuju kesalehan.

Anak-anak ke remaja, remaja ke dewasa. Pada tahap terkini di mana Tukiman perlahan menuju masa tua kemudian renta dan tiada, dia sudah menyaksikan cukup banyak ragam kesalehan. Menariknya, tidak melulu berasal dari mereka yang secara visual dan verbal bercitra saleh. Tak jarang, dia menemukan rupa kesalehan dari golongan yang umum menjadi penampung sinis dan cibir masyarakat. Golongan yang justru dilabeli tidak saleh.

Tidak mengherankan. Bagaimanapun juga dunia sudah diciptakan sempurna dalam keseimbangan. Tukiman meyakini, mengenai kesalehan, segala kekurangan manusia tercipta bersama bermacam fungsi. Terutama untuk menguji seberapa bijaksana seseorang ketika melihat kekurangan orang lain.

Saleh. Saleh. Saleh. Kiranya yang patut diperjuangkan bukan sekadar mencapai klaim labelnya. Lebih dari itu, hakikatnya.

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER