AIR

Memperhatikan, mempelajari sekaligus memahami watak dan cara berpikir setiap orang memang dianjurkan. Bisa dibilang, saya terbiasa menerapkan hal tersebut sejak kecil. Awalnya, sebagai salah satu cara menjaga kecocokan sosial. Menjadikan diri sendiri sefleksibel dan seadaptif mungkin demi satu tujuan: penerimaan sekitar.

Ada yang bilang, menjadi diri sendiri itu perlu. Tentu, tapi bukan tanpa kompromi. Apalagi kalau lawan bicara, tempat kita berada atau situasi yang sedang kita hadapi tidak terbuka pada perbedaan atau katakanlah keunikan. Cara kerja dunia dalam segala aspek selalu sama: berkompromi demi keselarasan. Pengecualian ada di konteks khusus atau eksklusif, kalau memang apa yang dihadapi melibatkan kesamaan paham dan/atau keterbukaan, silakan jadilah diri sendiri. Semerdeka mungkin.

Saya sempat merasa, secara teknis/filosofis mungkin saya meniru bunglon. Belakangan, ternyata saya mengadaptasi karakteristik air. Dari sana saya berpikir, apa esensi makhluk sosial terbaik itu kemampuan menyelaraskan diri dengan bermacam situasi dan medan? Bertanya pada pengalaman terkini, jawaban yang saya dapat: ya, tepat.

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER