22 DESEMBER

Tanpa perlu romantisisasi atau secara khusus dipatok pada tanggal tertentu, setiap hari bisa jadi Hari Ibu buat saya (dan tentu, selalu bisa menjadi istimewa). Berhubung kedekatan saya dengan ibu sudah kuat terjalin sejak dulu.

Ibu saya bisa menjadi sosok paling bersahabat sampai bisa memberikan kenyamanan sebagai ruang curhat. Tapi di sisi lain, bisa juga jadi lawan paling sengit di urusan debat. Terlepas dari keduanya, ibu adalah pembelajar ulung. Perhatiannya pada anak berkualitas luar biasa, karena ditambah dengan kemauan dan kemampuan mehamami.

Seperti seorang anak (katakanlah) pra-pencerahan pada umumnya, saya pernah mengalami masa gengsi untuk menunjukan respon yang semestinya ketika diberi bermacam perlakuan baik oleh ibu. Tapi pada akhirnya saya sadar, dengan betapa banyaknya kebaikan yang saya dapat, kok mesti malu?

Sejak meyakini perlunya menunjukan kasih sayang, saya semakin alay dan (kalau mengutip bahasa adik-adik sekalian) cringe ke ibu. Menariknya, itu terasa menyenangkan dan melegakan. Dalam arti, jika suatu saat kejutan dari Tuhan pada akhirnya datang, saya mungkin tidak akan begitu sedih. Berikut dengan dibayangi penyesalan terkait ini-itu.

Jika itu hanya seputar puja-puji. Saya tidak perlu Hari Ibu, karena setiap hari saya terbiasa mengapresiasi.
Jika itu hanya seputar klaim. Saya tidak perlu Hari Ibu, karena setiap hari saya terbiasa menegaskan siapa yang terhebat.

Tapi ya~ atas nama formalitas jagad maya, saya rasa tak apa.
Tidak semua budaya layak-jauhi.

Jadi.
Selamat Hari Ibu, mamah Dedeh.
Tetap bijaksana sekaligus absurd.

Urusan panjang umur, percayakan pada doa anakmu. Kalaupun tidak sesuai harapan, masih ada harapan lain di luar standar kebahagiaan manusia.

Apa?
(Ini bagian di mana kalian, teman-teman saya tercinta, untuk menebak dan meng-"aamiin"-kan. Silakan).

Comments

Popular posts from this blog

THE FATHER CANINE

SIMPANG JALAN

THE BEST FATHER